Prediksi Singapore — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk segera memetakan titik-titik rawan bencana, khususnya longsor dan banjir, di wilayah masing-masing. Permintaan ini disampaikan menyusul meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Belajar dari bencana yang terjadi di Cilacap dan Banjarnegara, semua kepala daerah diminta untuk menginventarisasi titik rawan longsor dan banjir. Curah hujan tinggi harus diantisipasi dengan langkah nyata,” tegas Tito di Kantor Kemendagri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Imbauan ini bukan sekadar himbauan biasa. Tito menekankan bahwa pemetaan yang cepat dan akurat adalah langkah pertama yang krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.
Langkah Konkret Pasca Pemetaan: Dari Penguatan Hingga Relokasi
Setelah peta kerawanan bencana tersusun, Tito meminta kepala daerah segera mengambil tindakan lanjutan. Opsi pertama adalah melakukan penguatan di lokasi-lokasi yang teridentifikasi rawan.
Namun, jika kondisi teknis tidak memungkinkan untuk dilakukan penguatan, langkah relokasi sementara bagi masyarakat setempat harus dipertimbangkan.
“Kalau memang tidak bisa diperkuat, ya masyarakatnya direlokasi sementara. Begitu juga dengan jalan yang rawan longsor, harus segera diperbaiki,” jelas mantan Kapolri tersebut.
Menyadari keterbatasan anggaran yang sering dialami daerah, Tito menyebut bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) siap memberikan dukungan. Bentuknya bisa beragam, mulai dari bantuan anggaran untuk perbaikan infrastruktur hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (teknik hujan buatan) untuk meredam curah hujan ekstrem.
Jawa dan Bali Jadi Fokus Utama
Tito juga merincikan wilayah-wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus dalam beberapa bulan ke depan. Menurutnya, periode November hingga Januari akan membawa potensi cuaca ekstrem bagi wilayah Indonesia bagian selatan, meliputi Jawa, Bali, NTB, selatan Maluku, dan selatan Papua.
Dari semua wilayah tersebut, Jawa dan Bali dinilai paling krusial. “Yang perlu atensi khusus adalah Jawa dan Bali. Alasannya, kepadatan penduduknya sangat tinggi. Longsor di tanah kosong dan di area pemukiman jelas risikonya berbeda,” ujarnya.
Peringatan Dini BMKG Kunci Antisipasi
Menjelang momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), dimana mobilitas masyarakat meningkat drastis, Tito juga meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengoptimalkan sistem peringatan dini.
“Saya mohon kepada BMKG untuk bisa memberikan peringatan setiap hari kepada publik dan kepala daerah. Informasi yang cepat dan real-time adalah kunci untuk mengambil tindakan antisipasi yang tepat,” tutup Tito.
Dengan instruksi yang tegas dan langkah-langkah konkret yang telah dijelaskan, pemerintah pusat mendorong para kepala daerah untuk tidak lagi menunggu bencana datang. Inisiatif dan kesiapsiagaan menjadi kata kunci dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem musim ini.