Volume Sampah Nataru 2026 Meningkat, DLH Optimalkan Penanganan

Volume Sampah Nataru 2026 Meningkat, DLH Optimalkan Penanganan

Slot Deposit 5000 — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meningkatkan kapasitas penanganan dan pengelolaan sampah menyusul lonjakan volume selama delapan hari libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Peningkatan aktivitas masyarakat selama periode liburan berkontribusi signifikan terhadap timbulan sampah.

Lonjakan Volume Sampah di Wilayah Perkotaan

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Tulungagung, Yudha Yanuar Hadi, mengungkapkan bahwa pihaknya mengoptimalkan operasi pengangkutan dan pengolahan. Hal ini dilakukan untuk merespons kenaikan volume sampah sekitar lima persen dibandingkan hari biasa.

“Selama libur Nataru, produksi sampah harian meningkat menjadi sekitar 127 hingga 130 ton,” jelas Yudha. Dengan peningkatan tersebut, total akumulasi sampah selama delapan hari liburan diperkirakan menembus angka lebih dari 1.100 ton.

Lonjakan volume terutama terjadi di kawasan perkotaan yang menjadi cakupan layanan rutin armada pengangkut DLH. “Sampah didominasi oleh sisa aktivitas kafe dan restoran yang tetap beroperasi selama libur panjang,” tambahnya.

Potensi Volume yang Lebih Besar

Yudha menyebutkan bahwa angka yang tercatat berpotensi lebih rendah dari kondisi sebenarnya. Hal ini disebabkan masih banyaknya lokasi wisata alam dan sentra kuliner yang belum terjangkau layanan pengangkutan sampah resmi dari DLH.

“Data ini bersumber dari wilayah yang terlayani armada kami. Jika seluruh destinasi wisata alam dan kuliner menggunakan layanan DLH, jumlahnya kemungkinan jauh lebih besar,” terang Yudha.

Penanganan Mandiri oleh Destinasi Wisata

Sejumlah destinasi wisata, seperti Pantai Gemah, diketahui menangani sampahnya secara mandiri dengan membuang langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Segawe. Pola pengiriman sampah dari kawasan wisata ini juga mengalami perubahan selama puncak liburan.

“Biasanya, pengelola Pantai Gemah mengirim sampah ke TPA Segawe satu kali seminggu dengan volume sekitar dua ton. Namun selama Nataru, pengiriman dilakukan setiap tiga hari sekali dengan muatan mencapai 2 hingga 2,5 ton per ritase,” papar Yudha. Retribusi dari sampah yang dibuang langsung ini masuk ke dalam pengelolaan TPA.

Tren Positif: Penurunan Sampah Perayaan di Jakarta

Sementara di ibu kota, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat perkembangan yang berbeda. Timbulan sampah sisa perayaan Malam Tahun Baru 2026 mencapai 415 meter kubik atau setara 91,41 ton. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 132 ton.

Penanganan sampah pasca-perayaan dilakukan secara masif oleh ribuan petugas di titik-titik utama seperti Bundaran HI, Jalan Sudirman-Thamrin, Monas, dan kawasan Istiqlal. Proses pembersihan yang terkoordinasi sejak malam hingga dini hari berhasil membuat Jakarta kembali bersih sebelum aktivitas warga dimulai.

Faktor Pendukung Penurunan Sampah

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebutkan beberapa faktor di balik penurunan volume sampah. Kebijakan larangan kembang api, kondisi cuaca, serta konsep perayaan tahun baru yang lebih sederhana dan bermakna turut berperan penting.

“Pasukan oranye kami, khususnya di kawasan car free night, sudah merampungkan tugas sebelum pukul 05.00 WIB. Upaya ini untuk memastikan Jakarta kembali bersih, tertata, dan siap menyambut aktivitas warganya,” kata Asep.

Proses pembersihan banyak mengandalkan tenaga manual menggunakan sapu dan pengki, terutama karena meningkatnya jumlah pedagang kaki lima dan hujan ringan yang turun saat perayaan. Asep juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berpartisipasi aktif menjaga kebersihan dengan mengurangi produksi sampah dan membuangnya pada tempat yang disediakan.

“Kesadaran warga ini sangat membantu dan menjadi kunci terciptanya perayaan yang tertib, nyaman, dan bersih,” pungkasnya.